GPSC SYSTEM

Blog Pemberi Informasi

Cerpen 26/11/11

Posted by imambaidlowi pada 26 November 2011

Ketika Cinta

Menemukanmu

APAKAH bintang masih ada di langit yang sama?, Mak pernah berkata bintang-bintang dan rembulan itu akan selalu berpendar di langit, dan aku bias menyaksikannya selama maslam masih ada. Mak bilang aku dapat merasakan hangat matahari selama pagi dan siang setia mengunjungi bumi. Aku juga menyukai kilat yang datang kala hujan menderas, walau seharusnya mereka tak perlu menggelegar. Cukup beri cahaya pendar meski sesaat.

Tapi entah sejak kapan, hidupku dipenuhi gelegar kilat semata. Aku tahu itu bukan pertanda datangnya hujan, saat semua orang disekitarku menangis, berlari sambil melolong ketakutan. Lalu satu-satu dari mereka jatuh menggelepar dengan tubuh bolong dan berdarah.

Sejak saat itu, bintang, bulan, dan matahari tak pernah ada dilangitku. Hanya senapan, bom, darah, air mata, dan nestapa saat aku menatap tanah yang kuinjak atau langit di atas kepalaku. Saat Mak dan Abu tak lagi bersuara selamanya karena harus ditanam dalam tanah. Tak ada apa pun kecuali perih yang menyebar begitu cepat.

Dan perih itu semakin mengganas menggerogotiku saat maha gelombang itu dating. Tsunami meruntuhkan semua bangunan, gedung bertingkat, bahkan menara. Ia menggulung segala dan hanya menyisakan sedikit puing diantara genangan air, untuk kupandangi atas nama kenangan. Dua Cut Abang-ku hilang. Mungkin mati.

Di dekat bundaran Lambaro itu seakan masih kulihat tumpukan mayat-mayat hitam yang berjajar. Ketika sadar, meski belum pulih, aku memaksakan diri mencari sosok Cut Abangku disana. Siang, senja, hingga malam dating dan aku harus menggunakan senter untuk mencari wajah yang kuakrabi bertahun-tahun itu. Pada mayat ke seratus, aku menyerah. Tak ada Cut Abang. Dan aku tak mampu mencarinya lagi diantara ratusan mayat lain yang tersisa. Tanganku penuh lumpur, kebas, dan seakan tak bias lagi digerakkan. Tangan itu kecil dan seakan mengecil. Tak mungkin lagi akumenjamah bukit mayat dan memeriksa sosok disana satu persatu. Hanya tangisan tanpa air mata dan rasa mual yang mengaduk perut sampai kepala.

“Adik sayang, kamu melamun lagi?”

Sapa lembut itu menyejukanku. Cut Isma. Aku selalu menyukainya. Diwajah Cut Isma banyak bintang, begitu terang, senyumnya mengingatkanku pada setengah garis lingkaran yang dibuat ibu guru di sekolah, atau seperti lengkungan pelangi terbalik. Cut Isma selalu tersenyum dengan hati. Dan kerudung putihnya lucu sekali, karena sering meliuk-liuk ditiup angin kencang yang selalu dating setelah tsunami melanda.

Cut Isma masih kuliah tingkat akhir di Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala. Di sela waktunya, ia rutin ker pengungsian dan bersama Di serta teman-teman mereka yang lain, membagikan cinta pada kami.

“lihat, siapa itu?” katanya berbinar namun dengan kening sedikit dikerutkan.

“Di! Di!” aku ingin melompat setinggi-setingginya dan memeluk laki-laki yang baru turun dari mobil putih rumah sakit itu.

“Apa kabar, Cut Nyak Dhien?”

Lon baik. Lon….

“Apa kamu sudah makan, Cut Nyak?”

Aku mengangguk, tak bisa menahan tawa yang membuncah setiap kali melihatnya.

“Jalan-jalan?” ajaknya.

Aku mengangguk lagi.

Dan seperti senja-senja yang lalu, lelaki itu menggandengku pergi. Meninggalkan Cut Isma yang melambaikan tangannya pada kami.

Sebenernya aku sudah lama mengenal Di, dokter muda dari Jakarta itu. Aku bertemu dengannya di dekat masjid Baiturrahman. Ia bilang, ia menemukanku pingsan dijalan. Aku tak ingat apa yang terjadi kecuali samar. Mak dan Abu terkapar didepan perahu besar yang tiba-tiba sudah berada di darat. Cut Abang hilang dibawa arus yang menggila. Sepertoi seekor sapi yang sekarat, aku hanya bisa melenguh. Beberapa orang menyeretku ke pinggir sesudah seseorang berteriak, “ Dia masih hidup!” lalu aku tak ingat apa-apa lagi.

Aku selalu ingin menangis saat teringat akan hal itu. Tapi air mata telah berubah menjadi lara yang menyergapku dalam cuaca.

“Siapa namamu?”

Aku tahu namaku tapi aku tak mau mengingatnya. Tidak, sebenarnya aku tak ingat namaku. Aku ingin menjadi orang lain saja. Aku merasa sudah mati.

“Sayang, siapa namamu?”

Aku hanya diam dan tak pernah menjawab kala ia menanyakan namaku.

Sekian lama dokter Di merawatku. Di membalut sendiri perban di kepala, lengan, dan kakiku. Lambat laun kami menjadi sangat dekat. Kami seperti teman. Makanya ia memintaku untuk memanggilnya Di saja. Sedang Di memanggilku “Cut Nyak Dhien.”

Mengapa Di memanggilku Cut Nyak Dhien? Aku selalu ingin bertanya padanya.

Dan seperti bisa menebak pikiran ini, suatu hari ia tersenyum lebar seraya menjelaskan, “ Di pernah membaca, Cut Nyak Dhien itu artinya ‘gadis kecil yang manis.’ Jadi Di memanggilmu itu saja, sampai kamu ingat namamu. Lagi pula siapa tahu suatu saat kamu menjadi Cut Nyak Dhien baru yang membangkitkan Aceh kita sekali lagi! Ta, kan?”

Aku ingin menangis waktu Di berkata seperti itu. Dulu setiap mau tidur, Mak sering mencaritakan tentang para perempuan pahlawan Aceh. Ada Cut Nyak Dhien, Cut Nyak Meutia, Pocut Meurah Intan, Pocut Baren, Keumalahayati, Sultanah Safiatuddin Syah, dan masih banyak lagi. Karena itu Mak memanggilku …… ah, aku tak juga bisa mengingat namaku. Aku tak mau. Biar kuingat saja nama-nama pahlawan perempuan itu.

Dan Di?

Ia sering mencaritakan hal yang membuatku tertawa atau membuat wajahnya yang tampan terlihat lucu. Di sangat menyukai anak-anak yang dijumpainya dimana saja. Juga yang kini tinggal di tenda-tenda pengungsian yang disebut Cut Isma “ tempat penampungan yang tercinta” itu.

Betapa gembira bila aku bersama Di. Aku ingin selamanya Di tinggal disini, di dekatku. Rasa rasa tak enak tinggal berhimpit dan kedinginan dalam tenda tak ada artinya bila Di ada. Aku tak punya siapapun disini, kecuali Di. Ya, Di dan Cut Isma. Orang menyebut mereka relawan karena mereka selalu rela melakukan apa saja untuk membantu kami di pengungsian. Aku tak bisa membayangkan bila aku tak bertemu mereka.

“Cut Nyak Dhien, ini rahasia antara kita, ya. Di suka sekali dengan perempuan Aceh. Mereka kuat, tegar, berjilbab. Ya, seperti Cut Nyak ini!” kata Di suatu hari.

Aku terbelalak sesaat. Di orang Jawa. Dia suka perempuan Aceh. Perempuan Aceh akan suka pada Di!

“Tapi menurut Cut Nyak, apa perempuan Acek suka pada lelaki Jawa?” mata Di berkedip tak yakin.

Aku mengangguk. Aku menggeleng. Aku mengangguk lagi dan menggeleng lagi.

“Ya, memang ada yang suka dan ada yang tidak. Kalau Cut Nyak Dhien?”

Aku mengangguk kuat-kuat.

Di tertawa. “Gadis kecil manisku, Di akan pergi mencari mie Aceh kesukaanmu. Ayo ikut! Kita ajak teman-temanmu yang lain!”

Tak ada hujan. Tiap hari-hari dengan Di menyebabkan pelangi. Dengan Di aku bias menjadi Cut Kak bagi puluhan pengungsi kecil tak berayah ibu, yang tinggal di tenda sekitarku. Kami belajar, mengaji, dan menyanyi bersama.

Di juga yang mengingatkanku untuk shalat tepat waktu dan tak henti berdoa.

“Setiap orang baik akan bertemu dengan orak baik lain yang dicintainya di surge,” ujar Di. “Itu janji Allah.”

Kami semua lalu berdoa bersama, agar kelak diperkenankan bertemu Mak, Abu, Abang, Kakak, atau adik kami di Jannah. Diam-diam aku selalu menambahkannya lebih panjang. Aku ingin bersama dengan Di dan Cut Isma juga di surge nanti.

Tak terasa, hamper dua bulan tsunami berlalu. Selama itu pula aku belum pernah lagi melihat hujan atau pelangi. Aku masih tak bias, tak mau mengingat namaku. Baying wajah Mak, Abu, dan Cut Abang masih muncul setiap jam. Tsunami mengejarku hingga kedalam mimpi, namun Di dan Cut Isma menyelamatkanku.

Hari ini aku melihat Di tak seperti biasa. Ia sangat rapi dan harum. Ia dating ke tenda kami sambil membawa koper dan ransel besarnya. Aku hamper manangis saat Di bilang ia harus pergi.

Mengapa? Tanyaku. Mengapa Di harus pergi? Bukankah Di ingin tahu namaku?

“Ada yang harus Di kerjakan, Cut Nyak. Jangan bersedih, suatu saat Di akan kembali.?

Lon ingin ikut. Mataku berputar-putar, menengadah. Sebentar lagi air mataku akan tumpah dan aku tak boleh membiarkannya.

“Di pergi bersama Cut Isma.”

Cut Isma. Jangan. Lon tak ingin Cut Isma pergi juga.

“Cut Nyak pasti tak mengira. Kami akan menikah. Dan Cut Nyak Dhien yang telah mempertemukan kami.”

Aku ingin menangis, tapi tak bias. Tak boleh. Jangan, jangan pergi. Jangan menikah.

Lon ingin ikut.

“Kalau kami kembali, kami berjanji akan melihat Cut Nyak.”

Lon belum ingat nama Lon. Jangan pergi. Suaraku tersekat. Selalu.

Tiba-tiba Cut Isma muncul dengan wajah bintangnya. Ia memelukku erat dan menciumi kedua pipiku.

Sore itu angin bertiup kencang. Dari balik tenda yang kumuh, aku menatap Di dan Cut Isma berjalan meninggalkan tempat pengungsian. Sesuatu merembesi batin. Ya, kesunyian yang tak pernah gagal merayapiku itu dating kembali. Cinta yang mulai kutanam berserakan diantara reruntuhan kalbuku. Dan kini aku sendiri disini bersama para pengungsi yang merintih setiap hari.

Tak ada lagi yang akan menanyakan nama atau memanggilku Cut Nyak Dhien. Tiba-tiba aku teringat lagu yang pernah dinyanyikan Mak dalam sepi. Lagu tentang “gadis kecil yang manis.” Cut Nyak Dhien.

Saat itu aku ingat namaku. Aku harus terus mengingatnya, memakainya. Aku harus senang saat orang-orang memanggilku dengan nama itu di tengah ketakberdayaan yang beranak pinak dalam diriku.

Cut Nyak Dhien. Mak dan Abu ingin aku seperti Cut Nyak Dhien! Tapi siapa peduli? Adakah yang peduli bila aku ingin seperti Cut Nyak Dhien?

Mataku menghangat. Basah.

Aku hanya gadis kecil 12 tahun yang dipenuhi lara. Bahkan mengucapkan nama diri dengan bibirku sendiri aku tak mampu. Hanya satu suara yang bisakeluar dari kerongkonganku : “Di!”

Untuk pertama kalinya setelah tsunami, gerimis turun senja itu. Tapi di Nanggroe yang terluka, hujan tak pernah menjanjikan pelangi atau sebuah nama.

Kutarik napas tak panjang. Ini Aceh. Meski nestapa dan sendiri aku harus tetap berdiri, sampai suatu masa cinta akan menemukan dan menyapaku kembali.

(Helvy Tiana Rosa / Majelis Penulis)

Sorry, the comment form is closed at this time.

 
%d blogger menyukai ini: